Selasa, 01 Maret 2011

Doa Rasulullah jika bangun dari tidurnya di tengah malam

Allahumma lakal hamdu anta qayyimus samaawaati walardhi wa man fiihin, wa lakal hamdu laka mulkus samaawaati wal ardhi wa man fiihin, wa lakal hamdu nuurus samaawaati wal ardhi, wa lakal hamdu antal haqqu wa wa’dukal-haqqu wa liqaa’uka haqqun wa qauluka haqqun wal-jannatu haqqun, wan naaru haqqun, wan-nabiyyuuna haqqun, wa Muhammadun shallallaahu ‘alaihi wa sallama haqqun, waass’atu haqqun. Allahumma laka aslamtu, wa bika aamantu, wa ‘alaika tawakaltu wa ilaika anabtu wa bika khaashamtu, wa ilaika haakamtu, faghfir lii maa qaddamtu, wa maa akhkhartu wa maa asrartu, wa maa a’lantu antal muqaddimu wa antal mu’akhiru la ilaaha illa anta aula ilaaha gairuka wa laa haula quwwata illa billah.

Artinya: “Ya Allah, bagi-Mu segala puji. Engkaulah penegak langit dan bumi dan alam semesta beserta segala isinya. Bagi-Mulah segala puji, pemancar cahay langit dan bumi. Bagi-Mulah segala puji, Engakaulah yang haq, dan janji-Mu adalah benar, dan surge adalah haq, dan neraka adalah haq, dan nabi-nabi itu adalah haq, dan Nabi Muhammad adalah benar, dan hari kiamat adalah benar. Ya Allah, kepada-Mulah kami berserah diri (bertawakal) kepada Engkau jualah kami kembali, dan kepada-Mulah kami rindu, dan kepada engkaulah kami berhukum. Ampunilah kami atas kesalahan yang sudah kami lakukan dan sebelumnya, baik yang kami sembunyikan maupun yang kami nyatakan. Engkaulah Tuhan yang terdahulu dan Tuhan ynag terakhir. Tidak ada Tuhan melainkan Engkau Allah Rabbul alamin. Tiada daya upaya melainkan dengan pertolongan Allah.”

Sabtu, 26 Februari 2011

Selayar kodong.. Kearifan lokal yang tidak terkelola dengan baik..

Tentang dinamika usaha pariwisata di Kabupaten Kepulauan Selayar, sebenarnya banyak contoh yang dapat dikemukan untuk membuka mata hati para perencana dan pengambil kebijakan. Dua tahun lalu, usaha wisata Jochen asal Jerman di Appatanah, sisi timur pulau Selayar sempat menjadi polemik karena saat itu dilaporkan hanya belasan juta rupiah yang mereka setor ke kas pemerintah Selayar sementara profit tahunan mereka dari usaha itu mencapai miliaran.

Modus Jochen dalam mendatangkan turis terbilang luar biasa. Dengan paket info wisata melalui internet dan dari mulut-ke-mulut tamu yang datang dia menangani kunjungan turis dari Eropa dengan professional dan terpadu. Mereka menjemput di Bandara Hasanuddin lalu mengantar ke Bira dengan mobil sendiri, dari Bira mereka menempuh perjalanan ke Appatanah dengan naik speedboat. Nyaris tanpa melalui ibukota Kabupaten, Benteng. Tuntas dan tangkas. Turis hanya butuh waktu beberapa jam dari Makassar lalu sampai ke Appatanah. Dan mereka pasti akan berdecak kagum melihat sensasi keindahan pesisir timur Selayar yang bersih, alami dan menenangkan.

Lain Jochen lain pula Mister Bernhard, usaha bisnis wisata yang dikelolanya di pantai barat Baloiyya dan timur Selayar, masih lebih dominan memanfaatkan pesawat pemerintah yang bersubsidi. Tamu yang mereka ikat di internet mesti naik pesawat dari Bandara Hasanuddin ke Bandara Aroeppala, Kota Benteng, jika tidak, turis sebenarnya bisa datang dari Pulau Bali langsung Ke Benteng karena adanya jalur baru yang dibuat pemerintah. Naik pesawat sebenarnya mengasikkan dan lebih cepat namun yang selalu buat gondok para pengelola wisata ini adalah saat pesawat delay atau berubah jadwal keberangkatannya tanpa konfirmasi ke pengelola wisata. Masalahnya, karena tidak ada pilihan lain. Jika demikian para pengelola wisata hanya bisa gigit jari.

Kondisi inilah yang ternyata belum ditangani dengan efektif hingga kini. Mengenai rute darat, sebenarnya lebih bagus dari tahun-tahun sebelumnya tetapi sekali lagi masalah waktu dan minimnya alat transportasi yang nyaman masih jadi kendala. Di balik itu semua, sampai saat ini ternyata masih banyak pihak minim pengetahuan tentang kawasan ini. Juga, atensi penentu kebijakan tentang kondisi dan potensi yang dapat dikembangkan selain pariwisata. Taka Bonerate adalah surga bagi ikan karang.

Di kawasan ini, tanpa menggunakan kalkulator pun kita dapat hitung nilai ekonominya. Setiap bulan, miliaran transaksi ekonomi berjalan di pulau yang oleh orang-orang kota (bahkan pemerintah) disebut miskin terkebelakang ini. Bisnis ikan kerapu hidup (live fish) adalah contohnya, rerata tiap bulan, dari pulau Latondu hingga Pasitallu, berton-ton ikan dikirim ke Bali dan Makassar dengan nilai ratusan juta hingga miliaran. Jika ini disebut mimpi bisa jadi. Warga hidup di pulau dengan nilai ekonomi miliaran, yang spektakuler namun tidak disadari oleh para pemangkukepentingan, bagi pemerintah mereka kawasan ini hanyalah kawasan berpenduduk miskin sehingga layak dijadikan obyek keprihatinan. Pemerintah abai dalam menjadikan keunggulan ekonomi perikanan dan kelautan kawasan ini sebagai pemicu (trigger) pengembangan wilayah. Salah satu bukti adalah masih minimnya akses dan moda transportasi komersil menuju kawasan ini.

Kawasan dengan 21 pulau itu dimana terdapat 9 yang telah berpenghuni adalah warisan yang telah bergulat dengan persoalannya sendiri. Sejak dijadikan taman nasional pada tahun 1992, dimana Departemen Kehutanan sebagai leading unit pengeloaan, mereka telah melakukan banyak kegiatan demi menjadikannya kawasan konservasi sekaligus pemanfaatan yang berdaya guna. Telah banyak rumah wisata seperti homestay, dermaga dan bahkan fasilitas wisata seperti kano, scuba tank, perahu katamaran, yang dibiayai atas nama negara.

Lembaga Swadaya Masyarakat dan Dinas Pariwisata Kabupaten juga demikian. Mereka sudah banyak sekali menawarkan paket pembangunan infrastruktur, ragam pelatihan selam, bahkan promowisata ke berbagai wilayah namun kawasan ini masih saja sunyi dari kunjungan wisatawan. Kawasan Taka Bonerate masih saja seperti biasa, setidaknya hari di luar festival mahal itu berlangsung.

Di Pulau Rajuni Kecil, para pelaut yang membawa barang seperti beras, terigu, semen bernilai ratusan juta dari Makassar ke Nusatenggara masih seperti dulu, kerja keras dan pemberani. Di Pulau Tarupa para nelayan masih saja bergelut dengan kehidupan nomad mereka, para warga di Pulau Jinato masih saja langgeng dengan interaksi ekonomi dengan pedagang di Kabupaten Sinjai dan Bulukumba. Para nelayan di pulau Pasitallu masih lekat hubungan sosial-budayanya dengan komunitas Pulau Jampea, Bonerate, bahkan suku Buton atau warga Boi Pinang di Sulawesi Tenggara.

Lalu siapa yang peduli pariwisata? Dimana masyarakat setempat pada TIE itu? Warga-warga dari beberapa pulau penyusun Taka Bonerate mungkin tidak pernah berpikir atau bermimpi bagaimana pariwisata bahari menyejahterakan mereka. Yang mereka pikir bagaimana melanjutkan hidup tanpa skenario. Bangun, ke laut mancing, capek berikhitar di laut lalu pulang tidur. Begitu seterusnya. Mungkin mereka merasa bermimpi saat melihat para penerjun payung tiba-tiba terlihat di atas gugusan atol itu. Kagum, setelah itu sunyi. Mereka mungkin akan mendapat manfaat dari pengembangan sektor kelautan atau pariwisata ini tetapi hal pertama yang dibangun adalah bagaimana masuk ke kehidupan mereka dan bersinergi dalam menata fondasi kehidupan mereka secara mutulaistik.

Cerita Cinta

Suatu ketika, ada sebuah pulau dimana semua perasaan tinggal: Kebahagiaan, Kesedihan, Pengetahuan, dan semua yang lain, termasuk Cinta. Suatu hari diumumkan kepada Perasaan bahwa pulau tersebut akan tenggelam, sehingga semua membangun perahu dan pergi kecuali Cinta.

Hanya Cinta satu-satunya yang memilih untuk tinggal di pulau itu. Cinta ingin bertahan hingga saat-saat terakhir.

Ketika pulau itu mulai tenggelam, Cinta memutuskan untuk meminta bantuan.

Kekayaan melewati Cinta dalam sebuah perahu besar. Cinta berkata, "Kekayaan, bisakah kau membawaku bersamamu?" Kekayaan menjawab, "Tidak, aku tidak bisa Ada banyak emas dan perak di perahuku. Tidak ada tempat lagi untukmu.

Cinta pun bertanya kepada Kesombongan yang melewatinya dengan kapal yang begitu indah.
"Kesombongan tolonglah aku".
"Aku tidak dapat menolongmu Cinta, kamu kelihatan basah dan dapat merusak perahuku", jawab Kesombongan.

Ketika Kesedihan mendekat Cinta pun meminta bantuan, "Kesedihan, biarkan aku ikut bersamamu".
"Oh.. Cinta, aku sedang sangat sedih dan aku butuh sendirian", jawab Kesedihan.

Kebahagiaan juga melewati Cinta begitu saja, dia terlalu bahagia hingga tidak mendengarkan ketika Cinta memanggilnya.

Tiba-tiba terdengas suara,"Ayolah Cinta, ikutlah bersamaku". Suara itu terdengar seperti suara orang tua. Namun Cinta terlalu bahagia sehingga dia tidak menyadari bahwa banyak orang tua di sana. Cinta tidak tahu orang tua mana yang mengajaknya tadi.

Cinta pun mendatangi salah seorang yang dikiranya mengajaknya tadi, dan itu adalah sang Pengetahuan. "Apakah engkau yang akan mengajakku pergi?"
"Itu bukan aku Cinta, melainkan Waktu", jawab Pengetahuan.
"Waktu?" tanya Cinta. " Tapi kenapa Waktu ingin membantu aku?"
Pengetahuan tersenyum dengan hikmat dan menjawab "Karena hanya Waktu yang mampu memahami betapa berharganya Cinta itu." :-p

If Allah allowed

Aku meminta kekuatan
dan Allah memberiku kesulitan untuk membuatku kuat

Aku meminta kebijaksanaan
dan Allah memberiku masalah untuk dipecahkan

Aku meminta kemakmuran
dan Allah memberiku otak dan otot untuk bekerja

Aku meminta keberanian
dan Allah memberiku bahaya untuk diatasi

Aku meminta cinta
dan Allah memberiku orang bermasalah untuk membantu

Aku meminta nikmat
dan Allah memberiku kesempatan

Faith is to believe what you do not see, the reward of this faith is to see what you believe.

Jumat, 25 Februari 2011

"Bukankan kita semua"

I was parked in front of the mall wiping off my car. I had just come from the car wash. Coming my way from across the parking lot was what society would consider a bum. From the looks of him, he had no car, no home, no clean clothes, and no money. There are times when you feel generous but there are other times that you just don't want to be bothered. This was one of those "don't want to be bothered times."
"I hope he doesn't ask me for any money," I thought.
He didn't. He came and sat on the curb in front of the bus stop but he didn't look like he could have enough money to even ride the bus.
After a few minutes he spoke.
"That's a very pretty car," he said.
He was ragged but he had an air of dignity around him.
I said, "thanks," and continued wiping off my car.


He sat there quietly as I worked. The expected plea for money never came.
As the silence between us widened something inside said, "ask him if he needs any help." I was sure that he would say "yes" but I held true to the inner voice.
"Do you need any help?" I asked.
He answered in three simple but profound words that I shall never forget. We often look for wisdom in great men and women. We expect it from those of higher learning and accomplishments.

 I expected nothing but an outstretched grimy hand. He spoke the three words that shook me.
"Don't we all?" he said.

I was feeling high and mighty, successful and important, above a bum in the street, until those three words hit me like a twelve gauge shotgun.
Don't we all?
I needed help. Maybe not for bus fare or a place to sleep, but I needed help. I reached in my wallet and gave him not only enough for bus fare, but enough to get a warm meal and shelter for the day. Those three little words still ring true. No matter how much you have, no matter how much you have accomplished, you need help too. No matter how little you have, no matter how loaded you are with problems, even without money or
a place to sleep, you can give help

Even if it's just a compliment, you can give that. You never know when you may see someone that appears to have it all. They are waiting on you to give them what they don't have. A different perspective on life, a glimpse at something beautiful, a respite from daily chaos, that only you through a torn world can see. Maybe the man was just a homeless stranger wandering the streets. Maybe he was more than that.

Maybe he was sent by a power that is great and wise, to minister to a soul too comfortable in themselves.

Maybe God looked down, called an Angel, dressed him like a bum, then said, "go minister to that man cleaning the car, that man needs help."
Don't we all?

“Lihat Kegagalan Saya”

What is a true winner? We may be very familiar of Honda Motors. They're everywhere, from cars to motorcycles. But do you know the real story of how challenging it was for Mr. Soichiro Honda to establish Honda Motors? Read on to discover how it took heavy challenges and a world war to built Honda.



Like most other countries, Japan was hit badly by the Great Depression of the 1930s. In 1938, Soichiro Honda was still in school, when he started a little workshop, developing the concept of the piston ring. 
His plan was to sell the idea to Toyota. He labored night and day, even slept in the workshop, always believing he could perfect his design and produce a worthy product. He was married by now, and pawned his wife's jewelry for working capital. 
Finally, came the day he completed his piston ring and was able to take a working sample to Toyota, only to be told that the rings did not meet their standards! Soichiro went back to school and suffered ridicule when the engineers laughed at his design. 
He refused to give up. Rather than focus on his failure, he continued working towards his goal. Then, after two more years of struggle and redesign, he won a contract with Toyota. 
By now, the Japanese government was gearing up for war! With the contract in hand, Soichiro Honda needed to build a factory to supply Toyota, but building materials were in short supply. Still he would not quit! He invented a new concrete-making process that enabled him to build the factory. 
With the factory now built, he was ready for production, but the factory was bombed twice and steel became unavailable, too. Was this the end of the road for Honda? No!
He started collecting surplus gasoline cans discarded by US fighters – "Gifts from President Truman," he called them, which became the new raw materials for his rebuilt manufacturing process. Finally, an earthquake destroyed the factory. 
After the war, an extreme gasoline shortage forced people to walk or use bicycles. Honda built a tiny engine and attached it to his bicycle. His neighbors wanted one, and although he tried, materials could not be found and he was unable to supply the demand.
Was he ready to give up now? No! Soichiro Honda wrote to 18,000 bicycles shop owners and, in an inspiring letter, asked them to help him revitalize Japan. 5,000 responded and advanced him what little money they could to build his tiny bicycle engines. Unfortunately, the first models were too bulky to work well, so he continued to develop and adapt, until finally, the small engine 'The Super Cub' became a reality and was a success. With success in Japan, Honda began exporting his bicycle engines to Europe and America.
 
End of story? No! In the 1970s there was another gas shortage, this time in America and automotive fashion turned to small cars. Honda was quick to pick up on the trend. Experts now in small engine design, the company started making tiny cars, smaller than anyone had seen before, and rode another wave of success.


Today, Honda corporation employs over 100,000 people in the USA and Japan, and is one of the world's largest automobile companies. Honda succeeded because one man made a truly committed decision, acted upon it, and made adjustments on a continuous basis. Failure was simply not considered a possibility.