Sabtu, 26 Februari 2011

Selayar kodong.. Kearifan lokal yang tidak terkelola dengan baik..

Tentang dinamika usaha pariwisata di Kabupaten Kepulauan Selayar, sebenarnya banyak contoh yang dapat dikemukan untuk membuka mata hati para perencana dan pengambil kebijakan. Dua tahun lalu, usaha wisata Jochen asal Jerman di Appatanah, sisi timur pulau Selayar sempat menjadi polemik karena saat itu dilaporkan hanya belasan juta rupiah yang mereka setor ke kas pemerintah Selayar sementara profit tahunan mereka dari usaha itu mencapai miliaran.

Modus Jochen dalam mendatangkan turis terbilang luar biasa. Dengan paket info wisata melalui internet dan dari mulut-ke-mulut tamu yang datang dia menangani kunjungan turis dari Eropa dengan professional dan terpadu. Mereka menjemput di Bandara Hasanuddin lalu mengantar ke Bira dengan mobil sendiri, dari Bira mereka menempuh perjalanan ke Appatanah dengan naik speedboat. Nyaris tanpa melalui ibukota Kabupaten, Benteng. Tuntas dan tangkas. Turis hanya butuh waktu beberapa jam dari Makassar lalu sampai ke Appatanah. Dan mereka pasti akan berdecak kagum melihat sensasi keindahan pesisir timur Selayar yang bersih, alami dan menenangkan.

Lain Jochen lain pula Mister Bernhard, usaha bisnis wisata yang dikelolanya di pantai barat Baloiyya dan timur Selayar, masih lebih dominan memanfaatkan pesawat pemerintah yang bersubsidi. Tamu yang mereka ikat di internet mesti naik pesawat dari Bandara Hasanuddin ke Bandara Aroeppala, Kota Benteng, jika tidak, turis sebenarnya bisa datang dari Pulau Bali langsung Ke Benteng karena adanya jalur baru yang dibuat pemerintah. Naik pesawat sebenarnya mengasikkan dan lebih cepat namun yang selalu buat gondok para pengelola wisata ini adalah saat pesawat delay atau berubah jadwal keberangkatannya tanpa konfirmasi ke pengelola wisata. Masalahnya, karena tidak ada pilihan lain. Jika demikian para pengelola wisata hanya bisa gigit jari.

Kondisi inilah yang ternyata belum ditangani dengan efektif hingga kini. Mengenai rute darat, sebenarnya lebih bagus dari tahun-tahun sebelumnya tetapi sekali lagi masalah waktu dan minimnya alat transportasi yang nyaman masih jadi kendala. Di balik itu semua, sampai saat ini ternyata masih banyak pihak minim pengetahuan tentang kawasan ini. Juga, atensi penentu kebijakan tentang kondisi dan potensi yang dapat dikembangkan selain pariwisata. Taka Bonerate adalah surga bagi ikan karang.

Di kawasan ini, tanpa menggunakan kalkulator pun kita dapat hitung nilai ekonominya. Setiap bulan, miliaran transaksi ekonomi berjalan di pulau yang oleh orang-orang kota (bahkan pemerintah) disebut miskin terkebelakang ini. Bisnis ikan kerapu hidup (live fish) adalah contohnya, rerata tiap bulan, dari pulau Latondu hingga Pasitallu, berton-ton ikan dikirim ke Bali dan Makassar dengan nilai ratusan juta hingga miliaran. Jika ini disebut mimpi bisa jadi. Warga hidup di pulau dengan nilai ekonomi miliaran, yang spektakuler namun tidak disadari oleh para pemangkukepentingan, bagi pemerintah mereka kawasan ini hanyalah kawasan berpenduduk miskin sehingga layak dijadikan obyek keprihatinan. Pemerintah abai dalam menjadikan keunggulan ekonomi perikanan dan kelautan kawasan ini sebagai pemicu (trigger) pengembangan wilayah. Salah satu bukti adalah masih minimnya akses dan moda transportasi komersil menuju kawasan ini.

Kawasan dengan 21 pulau itu dimana terdapat 9 yang telah berpenghuni adalah warisan yang telah bergulat dengan persoalannya sendiri. Sejak dijadikan taman nasional pada tahun 1992, dimana Departemen Kehutanan sebagai leading unit pengeloaan, mereka telah melakukan banyak kegiatan demi menjadikannya kawasan konservasi sekaligus pemanfaatan yang berdaya guna. Telah banyak rumah wisata seperti homestay, dermaga dan bahkan fasilitas wisata seperti kano, scuba tank, perahu katamaran, yang dibiayai atas nama negara.

Lembaga Swadaya Masyarakat dan Dinas Pariwisata Kabupaten juga demikian. Mereka sudah banyak sekali menawarkan paket pembangunan infrastruktur, ragam pelatihan selam, bahkan promowisata ke berbagai wilayah namun kawasan ini masih saja sunyi dari kunjungan wisatawan. Kawasan Taka Bonerate masih saja seperti biasa, setidaknya hari di luar festival mahal itu berlangsung.

Di Pulau Rajuni Kecil, para pelaut yang membawa barang seperti beras, terigu, semen bernilai ratusan juta dari Makassar ke Nusatenggara masih seperti dulu, kerja keras dan pemberani. Di Pulau Tarupa para nelayan masih saja bergelut dengan kehidupan nomad mereka, para warga di Pulau Jinato masih saja langgeng dengan interaksi ekonomi dengan pedagang di Kabupaten Sinjai dan Bulukumba. Para nelayan di pulau Pasitallu masih lekat hubungan sosial-budayanya dengan komunitas Pulau Jampea, Bonerate, bahkan suku Buton atau warga Boi Pinang di Sulawesi Tenggara.

Lalu siapa yang peduli pariwisata? Dimana masyarakat setempat pada TIE itu? Warga-warga dari beberapa pulau penyusun Taka Bonerate mungkin tidak pernah berpikir atau bermimpi bagaimana pariwisata bahari menyejahterakan mereka. Yang mereka pikir bagaimana melanjutkan hidup tanpa skenario. Bangun, ke laut mancing, capek berikhitar di laut lalu pulang tidur. Begitu seterusnya. Mungkin mereka merasa bermimpi saat melihat para penerjun payung tiba-tiba terlihat di atas gugusan atol itu. Kagum, setelah itu sunyi. Mereka mungkin akan mendapat manfaat dari pengembangan sektor kelautan atau pariwisata ini tetapi hal pertama yang dibangun adalah bagaimana masuk ke kehidupan mereka dan bersinergi dalam menata fondasi kehidupan mereka secara mutulaistik.

0 komentar:

Posting Komentar